Pada tahun 1920 Semaoen mengambil alih ISDV dan mengganti namanya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI)
Afwan Maksum
Oleh: Afwan Maksum*

Sarekat Islam (SI) didirikan oleh Samanhoedi, seorang saudagar batik ternama dari Solo, pada tahun 11 November 1911. Kelahiran Sarekat Islam dipicu karena adanya persaingan perdagangan batik antara pedagang Cina dan pedagang Pribumi, serta adanya tekanan dari kaum Ningrat Solo.

Berbeda dengan pendirian organisasi Boedi Oetomo yang lebih dulu lahir pada tahun 1908 tapi elitis—yang masih menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil yang memang dihuni para priyayi Jawa—Sarekat Islam justru memberi semangat kebangsaan bagi masyarakat luas waktu itu. Para pemimpin Sarekat Islam duduk sejajar dengan dengan pejabat Belanda, sambil menyerukan persamaan hak, bahwa kaum Pribumi sama-sama manusia seperti orang Belanda.

Pada Mei 1912, atas ajakan Samanhoedi, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto bergabung dan menyempurnakan Anggaran Dasar yang tidak hanya berupaya melindungi kaum Pribumi dalam perdagangan, tapi juga menginginkan adanya semangat bersama untuk memajukan kesejahteraan dan pendidikan umat Islam. Kongres Sarekat Islam kedua di Yogyakarta pada tahun 1914, HOS Tjokroaminoto terpilih menjadi Ketua baru Central Sarikat Islam (Ketua Umum) menggantikan Samanhoedi, dan mulailah bermunculan berbagai Sarekat Islam diberbagai kota dan menjadi organisasi terbesar di Nusantara pada saat itu.

Di Gang Paneleh VII Surabaya, Rumah HOS Tjokroaminoto inilah indekos pemuda-pemuda yang sedang belajar di Surabaya. Mereka itu adalah Soekarno, Muso, Alimin, Semaoen, Kartosoewirjo, dan Herman Kartowisastro. Mereka secara sengaja dan tidak sengaja, belajar mengenai politik kebangsaan melalui HOS Tjokroaminoto. Karena begitu mendalamnya pelajaran politik kebangsaan yang diterima para muridnya, sehingga tidak heran para murid HOS Tjokroaminoto menjadi tokoh dari sejarah pendirian Republik Indonesia. Bahkan gaya orasi Bung Karno pun terinspirasi oleh gaya pidato sang guru ini.

Kelak, murid-murid HOS Tjokroaminoto—Soekarno, Musso, Kartosoewirjo—berpisah memilih jalan masing-masing. Pertarungan mereka kemudian, sebagaimana dicatat sejarah, amat mempengaruhi perjalanan di Republik Indonesia. Di gang Paneleh inilah Soekarno dan kawan-kawan banyak bertemu dengan pembaru Islam, seperti Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Fakih Hasyim dan A. Hasan. Mereka bersama HOS Tjokroaminoto membuat forum dakwah dan diskusi Ta’mirul Ghoffilin. Di forum diskusi seperti inilah para pemuda tersebut ditempa dan dididik.

Pada tahun 1913 di rumah HOS Tjokroaminoto inilah kedatangan HJFM Sneevliet, seorang tokoh sosialis radikal Belanda. Sneevliet kerap berdiskusi dengan anak-anak muda di rumah HOS Tjokroaminoto, termasuk dengan Musso. Selama di Surabaya, Sneevliet memasukkan gagasan “merah” di Sarekat Islam melalui Musso, Alimin dan lain-lain. Sarekat Islam memang memiliki basis massa yang besar yang membuatnya layak menjadi incaran Soviet untuk dirasuki ide-ide radikal.

Setahun kemudian Sneevliet mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), yang berhaluan Marxisme, untuk menyebarkan komunisne di Indonesia, tepatnya di Semarang. Sneevliet juga aktif menjadi editor surat kabar di Vereniging van Spoor en Tramwegpersoneel (VSTP) atau Serikat Buruh Kereta Api dan Trem, yang bermarkas di Semarang. Semaoen terkesan pada Sneevliet,  pada tahun 1916, Semaoen pindah ke Semarang untuk menjadi propagandis VSTP.

Di Semarang, Semaoen bergabung dengan SI Semarang, yang pada saat itu dipimpin Mohammad Joesoef. Pada Mei 1917 kepemimpinan SI Semarang berpindah kepada Semaoen. Pergantian ini bermula dari isu yang digulirkan Semaoen agar SI Semarang bergabung dengan Komite Kebebasan Pers, yang dibentuk Sneevliet. Joesoef menetang usul itu, tapi karena Semaoen didukung oleh mayoritas anggota, terpilihnya Semaoen menunjukkan kemenangan kelompok sosialis radikal.

Dibawah Semaoen, SI Semarang berkembang pesat. Gerakannya difokuskan dengan aktif mengorganisir buruh dan nelayan. Bersama temannya di SI Semarang, Alimin dan Darsono, Semaoen juga mempelopori aksi mogok buruh di kota itu. Setelah memimpin SI Semarang yang kerap disebut "SI Merah", Semaoen kerap berselisih dengan sang guru, HOS Tjokroaminoto yang notabene merupakan pemimpin Sarekat Islam. Semaoen mencibir gerakan kooperatif HOS Tjokroaminoto sebagai antek Belanda karena masuk menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat Bentukan Belanda).

Puncak perselisihan keduanya terjadi kongres SI di Surabaya pada tahun 1919. Dalam kongres ini HOS Tjokroaminoto memimpin pengambilan keputusan disiplin partai dan melarang kader partai memiliki organisasi lain. Semaoen yang kala itu menjadi Ketua Perhimpunan Komunis Indonesia memilih hengkang dan mengubah SI Semarang menjadi Sarekat Rakyat. Pada tahun 1920 Semaoen mengambil alih ISDV dan mengganti namanya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).


*Aktivis Reformasi 1998

Post A Comment: