Trump sungguh radikal. Tidak saja tampil beda dengan lawan politiknya dari Demokrat yang sangat mengagungkan HAM, demokrasi dan globalisasi
Reinhard Hutapea
Oleh: Reinhard Hutapea*

Hampir seluruh public opinion dunia tidak ada yang menyangka Trump akan menang dalam pemilu Amerika Serikat (AS). Di mana-mana, polling selalu memenangkan Hillary Clinton. Kenyataannya lain, walaupun mayoritas polling memenangkan Hillary, tetapi Trump yang unggul. Unggul dan selanjutnya menjadi sorotan dunia karena program-programnya yang kontroversial.

Trump sungguh radikal. Tidak saja tampil beda dengan lawan politiknya dari Demokrat—yang sangat mengagungkan HAM, demokrasi dan globalisasi—namun juga dari partainya sendiri, Republik. Dengan signifikan dan militan, ia mendobrak tradisi politik agung Amerika selama ini, yakni dari/sebagai kampiun penjaga keamanan mondial, pemimpin perdagangan bebas, dan pemberi warna kebudayaan dunia ke arah yang lebih realistis.

Baginya, posisi demikian sudah apkir, sudah usang, dan sudah tidak dibutuhkan lagi karena telah merugikan AS. Hal ini dapat kita baca dari kata-katanya sendiri, "Semua kerja sama politik, militer, dan ekonomi internasional memperlemah Amerika, dan dengan itu menciutkan Lebensraum di dalam Amerika itu sendiri, karena Lebensraum yang terlalu terbuka akan menekan Amerika sendiri: lapangan kerja yang hilang, neraca perdagangan yang merugikan, kerja sama internasional yang lebih menjadi beban," urainya bersemangat (Daniel Dhakidae, Kompas, 6 Maret 2017)

Menjadi beban yang membangkrutkan sebagai konsekuensi logis dari kepemimpinannya pascaperang dunia ke II, membendung pengaruh Komunis dan membangun pasar bebas (free market). Berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan militer, ideologi, dan khususnya pakta-pakta pertahanan membuat perekonomian negara semakin lama semakin terbebani. Begitu pula untuk membangun rezim-rezim ekonomi internasional untuk mewujudkan kelangsungan liberalisasi perdagangan; IMF, Bank Dunia, dan WTO yang biayanya sangat besar.

Di sisi lain, sekutu-sekutu yang dibantunya, seperti Jepang, Jerman/Eropa Barat pada umumnya, Korea Selatan, Hongkong, Singapura, Arab Saudi, Kanada, Meksiko dan lain-lain semakin lama semakin makmur dan sejahtera. Sebaliknya dengan AS, yang perlahan tapi pasti semakin lama semakin terpuruk.

Kehidupan ekonominya nyungsep hingga ke titik yang kurang dapat diterima akal. Sebagai ilustrasi dapat dilihat dari tiga indikator ekonomi (Anton Hendranata, Kompas, 8 Maret 2017). Pertama, sudah 40 tahun perekonomian AS terperangkap dalam defisit perdagangan barang. Defisit ini meningkat drastis nyaris empat belas kali lipat dalam kurun waktu 1971-1977, dari $2,3 milyar menjadi $31 milyar. Tidak cukup di situ, defisit ini terus menggelembung hingga $763 milyar pada tahun 2015.

Kedua, pertumbuhan ekonomi AS terlihat jalan di tempat dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah krisis ekonomi global 2008. Pertumbuhannya hanya antara 1,5 – 2,5 persen sejak tahun 2010, sementara yang diharapkan adalah antara 3,5 – 4,5 persen. 

Ketiga, sebagai implikasinya karena pertumbuhan ekonomi yang stagnan rakyat banyak yang menganggur. Di sisi lain kaum pendatang (imigran) yang berimigrasi ke sana semakin hari semakin kaya karena keterampilannya ternyata lebih berkualitas dari pekerja AS sendiri. Sungguh tragis, dalam bahasa Trump negerinya disebut sebagai dan sedang "meluncur ke neraka", dan tidak ada orang, pihak dan negeri lain yang memikirkannya (Daniel Dhakidae, Kompas). Mau dipertahankan kekonyolan ini?

Tidak urai Trump dengan tegas. Setop semua itu. Kini saatnya menempatkan kepentingan AS di atas segala-galanya, "American first". "Buy American and hire American". Meski dapat tantangan besar dan berat wujudnya sudah mulai take off; larangan bagi imigran dari 9 negara Islam masuk ke AS, membangun tembok pemisah dengan perbatasan Meksiko, keluar dari The Trans-Pacific Partnership (TPP), out dari NAFTA, mengajak semua mitra yang bergabung dalam organisasi-organisasi internasional yang selama ini pembiayaannya ditanggung AS supaya ditanggung bersama (NATO, PBB, IMF, WB, WTO), menciptakan musuh bersama, yakni Islam sebagai ideologi (William Liddle, Kompas, 16 Ferbuari 2017), menurunkan pajak korporasi yang berbasis di AS dan sebaliknya bagi yang berbasis di luar MNCs dan lain-lain. Apa yang salah dengan ini? tidak ada.

Trump sangat realistis. Ia mendengar jeritan rakyatnya (khususnya kelas menengah dan bawah). Inilah demokrasi yang nasionalistis. Tentu tidak bagi negara-negara yang selama ini bergantung di ketiak Amerika.


*Staf pengajar FISIP UDA Medan, mantan Dekan FISIP UNTAG Jakarta.

Post A Comment: