Sir Timothy John Berners-Lee, penemu World Wide Web dan ketua World Wide Web Consortium.

World Wide Web (WWW) saat ini sudah berusia 28 tahun. Pada awalnya, Tim Berners-Lee mengajukan proposal World Wide Web untuk pertama kali pada 1989 lalu. Berners-Lee yang berasal dari Inggris ini menulis sebuah surat terbuka dalam rangka ulang tahun ke-28 World Wide Web, 12 Maret 2017 kemarin.

Dalam surat terbuka tersebut, Berners-Lee menerangkan bahwa jaringan web sebenarnya sudah menyerupai visi yang pernah dicita-citakan dahulu. Orang-orang dari berbagai belahan dunia kini memanfaatkan web untuk bertukar dan berbagi informasi, berinteraksi menembus batasan geografis, serta budaya.

Berners-Lee menyatakan kegundahan dan kekhawatirannya setahun terakhir ini. Ia melihat meningkatnya tren negatif di kalangan pengguna internet, yang secara langsung mereduksi sisi positif dari kegunaan internet yang diharapkan sejak awal pembuatannya.


Berita hoax

Tren negatif pada urutan pertama yang disoroti Berners-Lee adalah maraknya peredaran berita palsu alias hoax di web. Menurut Berners, berita hoax begitu cepat menyebar lewat media sosial dan search engine yang dimanfaatkan sebagian besar pengguna internet untuk mencari informasi.

Pengelola media sosial dan search engine, ujar Berners-Lee, mencari uang dari link yang diklik pengguna. Oleh karena itulah mereka mengembangkan algoritma khusus dengan mempelajari perilaku dan preferensi masing-masing pengguna. Tujuannya supaya bisa menyajikan link yang sesuai kesukaan si pengguna dan besar kemungkinannya untuk diklik.

Berner mengungkapkan dalam suratnya di World Wide Web Foundation itu, "Ini berarti misinformasi atau berita palsu yang mengejutkan, atau dirancang agar sesuai dengan bias pendapat kita bisa menyebar layaknya kebakaran hutan."

Lalu, Bagaimana mengatasi peredaran berita palsu? Berners-Lee berpendapat jawabannya tak lain berada di tangan para pengelola media sosial dan search engine, seperti Facebook dan Google.

Untungnya, kedua raksasa internet itu belakangan telah menyadari peranan layanannya yang ditunggangi penyebar hoax. Keduanya telah mulai menerapkan upaya-upaya memerangi berita palsu.
Kehilangan kendali atas data pribadi

Masih berkaitan dengan soal perusahaan internet yang doyan mempelajari pengguna. Berners-Lee mengatakan banyak situs saat ini menawarkan jasa gratis, asalkan penggunanya menyerahkan data pribadi.

Kebanyakan pengguna internet cenderung malas membaca dokumen terms and condition yang disodorkan perusahaan internet. Lalu percaya begitu saja atau tidak keberatan memberi data asalkan mendapat layanan online gratis.

Tanpa disadari, data pribadi tersebut kemudian disimpan oleh si penyedia jasa online secara tertutup, di luar jangkauan pengguna yang menyerahkannya. Penyedia jasa bisa bebas membagikannya dengan pihak lain.


"Terlebih lagi, di kebanyakan kasus kita tidak punya cara memberi feedback mengenai data apa yang tak ingin dibagikan -terutama dengan pihak ketiga," tutur Berners-Lee.

Pengumpulan data pribadi pengguna juga turut berdampak pada pengawasan yang dilakukan pemerintah terhadap warga di dunia maya. Rezim represif bisa menangkap aktivis internet seperti yang terjadi di beberapa negara, atau mengawasi lawan politik.


Bertebaran pariwara politik

Sebagian besar dari pengguna memperoleh informasi dari segelintir platform seperti Facebook dan Google, ditambah lagi data pribadi banyak dikumpulkan oleh berbagai algoritma.

Walhasil, kampanye-kampenye politik pun kini bisa berupa iklan personal yang ditujukan secara langsung ke pribadi pengguna internet yang bersangkutan.

Berners-Lee mencontohkan masa pemilu presiden 2016 di AS, di mana setiap harinya bisa terdapat 50.000 variasi pariwara politik yang beredar hanya di Facebook saja.

Yang kurang mengenakkan, banyak dari iklan-iklan ini digunakan secara tidak etis, misalnya dengan mengarahkan para penerimanya ke situs berita palsu untuk mempengaruhi persepsi mereka lewat cerita fiktif.

"Masalah-masalah ini kompleks dan solusinya tidak akan sederhana," kata Berners-Lee. Dia mengajukan beberapa kemungkinan jalan keluar, seperti mendesak perusahaan web agar mengembalikan kendali data ke pengguna, dan mendorong pemerintah agar memperjelas aturan kampanye politik di internet.

Aneka persoalan di internet tersebut coba dipaparkan dan dicarikan jalan keluarnya dalam "strategi lima tahun" oleh yayasan Web Foundation yang didirikan oleh Berners-Lee.

World Wide Web (WWW, web) sendiri adalah model pembagian informasi di internet yang memakai protokol Hypertext Transfer Protocol (HTTP). Laman-laman web di seluruh dunia bisa dijelajahi dengan mengetikkan alamat Uniform Resource Locator (URL) di kolom software browser.

Web adalah salah satu bagian dari internet yang berdiri di atas jaringan komputer global tersebut. Selain untuk web, jaringan internet juga dipakai berkirim e-mail, instant messaging, dan FTP. (Kompas, CNBC)


Post A Comment: