Sepanjang lintas perbatasan antara Palang Jawa Timur, Kabupaten Tuban, dan Brondong, Kabupaten Lamongan, terlihat perahu nelayan berlabuh di sungai Lohgung di Selasa pagi hari
Nelayan tradisional anggap penggunaan Catrang merusak ekosistem laut.

Jepara, PILKITA - Sepanjang lintas perbatasan antara Palang Jawa Timur, Kabupaten Tuban, dan Brondong, Kabupaten Lamongan, terlihat perahu nelayan berlabuh di sungai Lohgung di Selasa pagi hari (8/8). Nelayan Palang telah meminta peninjauan kembali kebijakan yang melarang penggunaan cantrang, semacam jaring ikan laut, alat pancing yang telah diidentifikasi sebagai tidak berkelanjutan dan tidak ramah lingkungan. Mereka khawatir larangan tersebut dapat menyebabkan penurunan volume tangkapan mereka, sementara nelayan di Lohgung, Brondong, mendukung pelarangan cantrang untuk melindungi populasi ikan lokal.

Berbagai upaya dan kebijakan pemerintah untuk mencegah eksploitasi laut secara besar-besaran dengan melarang penggunaan cantrang--jaring Cantrang yang dianggap tidak ramah lingkungan--telah dianggap positif. Namun, larangan tersebut belum diikuti oleh kebijakan yang komprehensif dan cepat, sehingga hasilnya tidak berjalan sebaik yang diharapkan dan dikhawatirkan akan memicu kerusuhan.

Beberapa nelayan, yang menerima alat pancing untuk mengganti cantrang dari pemerintah, menyerahkannya kepada nelayan lain dengan harga murah. Proses penggantian, diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan, telah memicu keresahan.

Mereka semua, kata ketua Forum Nelayan Jepara Utara Sholikul Hadi, Senin (7/8), menerima informasi yang tidak memadai, distribusi yang tidak merata, tidak adanya pengawasan ketat, dan sedikit jaring, sehingga tangkapan tidak menutupi biaya untuk pergi. Keluar di laut

Kondisi ini akhirnya mempersulit upaya pelestarian laut dan mendorong nelayan untuk kembali ke pola penangkapan ikan yang lama. Mereka menganggap metode tradisional sebagai memberikan hasil yang lebih baik, memungkinkan stabilitas keuangan.

Kondisi yang buruk tersebut, kata Sholikul, telah memaksa nelayan yang telah menerima bantuan untuk mengganti jala kanton dengan milenium untuk menjualnya kepada nelayan lain.

Nelayan di Jepara Utara, mulai dari daerah pesisir di kabupaten Mlonggo, Mbayuran, hingga Ujung Watu, telah menjadi target pasar untuk penjualan jaring milenium. Jaring milenium memiliki ukuran mesh empat inci dan beratnya di bawah 13 kilogram. Harga jualnya Rp 850.000 sampai Rp 1 juta, jauh lebih murah dari harga normal masing-masing Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta.

Mereka menjual jala karena mereka tidak terbiasa dengan alat tersebut, sementara tangkapannya juga menurun. Mereka yang menjual jaring bantuan kembali menggunakan teknik lama. "Sebenarnya saya sudah bilang kepada mereka, meski hasil tangkapannya kurang, metode baru ini lebih ramah lingkungan," kata ketua Koperasi Nelayan Subur Laut Rustoni di Kabupaten Gebang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Sejak tahun lalu, 84 kapal berukuran 5 gross ton di Gebang mendapat bantuan dalam bentuk jaring milenium. Mereka kembali ke pola lama karena terbatasnya ketersediaan jaring milenium. Setiap nelayan mendapat rata-rata 10 milenium jaring, sementara mereka idealnya lebih memilih 25 jaring.

"Bila menggunakan arad dan pengerukan, nelayan bisa mendapatkan 20 kilogram setiap kali mereka pergi ke laut. Dengan menggunakan jaring 10 milenium, mereka hanya bisa mendapatkan 10 kilogram, "katanya.


Kebijakan Pemerintah yang menjadi solusi

Menurut Dirjen Perikanan Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sjarief Widjaja, pemerintah tengah menjajaki kemungkinan mengeluarkan kebijakan untuk memecahkan masalah alat pancing yang dilarang. Untuk kapal-kapal cantrang yang berada di bawah 10 ton kotor, pemerintah akan mengalokasikan alat penangkapan ikan pengganti. Untuk cantrang yang mengukur 10 gross ton menjadi 30 gross ton, pemerintah akan memfasilitasi dana untuk mengkompensasi alat dan mengembangkan usaha. Perahu cantrang tradisional yang berukuran di atas 30 ton kotor akan diarahkan ke daerah penangkapan ikan di perairan Arafura dan Natuna.

Namun, peralihan menggunakan cantrang ke alat pancing ramah lingkungan harus dimulai dengan proses pengukuran tonase kapal. Jenis pengukuran ulang ini dilakukan oleh Kementerian Perhubungan bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Pemerintah sedang menjajaki kemungkinan membantu nelayan ex-cantrang bekerja sama dengan bank, termasuk BNI, BRI dan bank pembangunan daerah, untuk mendapatkan pinjaman dan restrukturisasi hutang.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, jumlah kapal yang menggunakan metode pengukuran ulang diperkirakan mencapai 15.800 unit. Hingga akhir Juli 2017, jumlah kapal yang menggunakan metode ini adalah 11.800 unit. Hampir setengah dari perahu mungkin telah memanipulasi ukurannya. Setelah melakukan perubahan pada

Pada tahun 2016, jumlah alat penangkapan ikan pengganti yang dialokasikan mencapai 1.884 paket. Pada periode Januari sampai Juli tahun 2017, paket bantuan yang dialokasikan mencapai 7.915 dari total 11.437 paket.


Nelayan menolak bantuan

Menurut ketua Asosiasi Nelayan Samadikun di Kota Cirebon, Sofyan, perkembangan terakhir ini mengakibatkan nelayan menolak bantuan. Dari 21 jala yang dibutuhkan oleh masing-masing nelayan, masing-masing hanya sembilan.

Ketua Asosiasi Nelayan Indonesia Jawa Barat (HNSI) Nandang A. Permana mengatakan bahwa nelayan tidak dapat berbuat banyak bila alat yang diberikan tidak memenuhi kebutuhan mereka.

Karena itu, kata Nandang, pendapatan nelayan turun 50 persen. Kondisi ini memaksa nelayan kembali ke metode tradisional. Nelayan di Lampung juga memiliki pengalaman serupa, sementara nelayan di wilayah pesisir Teluk Lampung mengatakan bahwa mereka berharap pemerintah segera memberikan solusi segera.

Antoni, 40, seorang nelayan di Lempasing, Kabupaten Teluk Betung Timur, Kota Bandarlampung, mengatakan bahwa dirinya tidak menerima alat pancing pengganti seperti yang dijanjikan oleh pemerintah.

Jatuhnya tangkapan juga dilaporkan oleh nelayan di Lohgung, Kabupaten Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Mereka mendukung pelarangan jala cantrang. Namun, dengan alat pancing baru, tangkapan ikan teri dan udang sudah menurun.

Jika sebelumnya mereka membawa pulang 60 kilogram hasil tangkapan, mereka kini hanya membawa pulang 20 kilogram. "Kami mendukung pelarangan penggunaan cantrang. Harus ada solusinya. Kami menyadari bahwa pelarangan itu ditujukan untuk keberlanjutan sejumlah ikan, tapi mengurangi hasil tangkapannya, "kata Monaji, 67, seorang nelayan di Lamongan.

Post A Comment: