Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo mencatat bahwa sekitar 70 persen konflik dunia terjadi karena untuk mendapatkan sumber energi dan minyak
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memberikan ceramah kepada 270 peserta Studium Generale, terdiri dari 150 Dosen tetap, Dosen Part Time dan Student League serta 120 Mahasiswa London School of Public Relations (LSPR) di Auditorium Prof. Dr. Djajusman dan performance Hall Sudirman Park STIKOM, Jakarta Pusat, Jumat (11/8/2017

Jakarta, PILKITA - Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo mencatat bahwa sekitar 70 persen konflik dunia terjadi karena untuk mendapatkan sumber energi dan minyak.

"Saya meyakinkan Anda bahwa 70 persen konflik disebabkan oleh pertarungan untuk merebut energi minyak, karena energi fosil tidak dapat diperbaharui, dan ini sangat penting," kata Panglima TNI di sebuah ceramah umum di London School of Public Relations (LSPR) Di Jakarta, Jumat.

Gatot menambahkan bahwa konflik akan berlanjut sampai sumber energi habis.

Gatot mencontohkan konflik yang terjadi di wilayah Timur Tengah, yang dikenal dengan nama "Arab Spring", sebagai contohnya. Perjuangannya adalah mengendalikan sumber energi dan minyak di berbagai negara di dunia. Timur Tengah adalah daerah penghasil minyak, katanya.

"Kami melihat (konflik di) Irak, Libya, Arab Saudi, dan apa yang masih terjadi di Suriah, daerahnya adalah produsen minyak terbesar di dunia Apa yang terjadi karena penguasaan untuk energi," jelas Nurmantyo.

Komandan TNI menunjukkan bahwa bahkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pernah mencatat hal ini. Saat berkunjung ke Irak, Trump pernah mengatakan bahwa ISIS tidak akan pernah ada jika AS bisa mengendalikan minyak.

"Tidak mengherankan bila Trump memilih mantan atasannya di Exxon Mobil sebagai menteri luar negeri," katanya.

Dia menekankan bahwa negara-negara yang tertarik dengan minyak tidak selalu terjun langsung ke dalam perang, namun mereka menggunakan agitasi lokal untuk memicu konflik.

Begitu sumber energi habis pada tahun 2056, akan terjadi krisis pangan dan air. Negara lain kemudian akan menargetkan makanan dan air yang dimiliki oleh negara-negara yang berada dekat dengan garis khatulistiwa.

"Negara-negara di luar khatulistiwa yang memiliki sekitar 9,8 miliar orang akan menargetkan negara-negara di dalam khatulistiwa, seperti negara-negara ASEAN, Kolombia, Meksiko dan lainnya, untuk makanan dan air mereka," Panglima TNI menyoroti.

Menurutnya, negara-negara di luar khatulistiwa kemudian akan melihat Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam.

Gatot menekankan, "Setelah Musim Semi Arab, banyak negara melihat ke arah Khatulistiwa, negara lain akan melihat Indonesia yang memiliki sumber daya alam melimpah, garis pantai terpanjang kedua di dunia, dan banyak makanan. Indonesia akan menjadi rentan."

Proklamator bangsa Indonesia, Soekarno (Bung Karno), pernah menyatakan bahwa kekayaan alam Indonesia suatu hari nanti akan menjadi sumber iri bagi negara lain di dunia.

"Presiden Joko Widodo juga pernah mengatakan, kaya akan sumber daya alam bisa menjadi bencana bagi Indonesia'," Panglima TNI mengungkapkan.

"Setiap warga harus hati-hati, jika kita masih berselisih, kita dapat dengan mudah diadu satu sama lain, dan Indonesia akan menjadi ladang untuk konflik di masa depan," tegas Jenderal Gatot Nurmantyo.

Oleh sebab itu, Panglima TNI mengingatkan masyarakat Indonesia untuk berhati-hati. Negara ini harus selalu bersatu atau negara lain akan memanfaatkan minyak dan energinya, seperti yang terjadi di Suriah, katanya.

Post A Comment: