Acara pameran lukisan yang bertemakan “Senandung Ibu Pertiwi” yang diselenggarakan oleh Sekretariat Negara, penting untuk disaksikan. Dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Pengunjung mengamati lukisan di Pameran Lukisan Istana Kepresidenan di Galeri Nasional, Jakarta, Senin (31/7). Pameran yang diadakan pada 2-30 Agustus ini bertema “Senandung Ibu Pertiwi” menampilkan 48 lukisan oleh 41 pelukis.

Jakarta, PILKITA - Indonesia sebagai negara ribuan pulau dan agraris terkenal dengan keindahan alam, dengan sawah subur, orang persahabatan dan tradisi yang unik, religius dan kaya akan mitologi. Deskripsi seperti itu tercermin dalam Pameran Lukisan Istana Presiden Indonesia di Galeri Nasional, Jakarta, 2 sampai 30 Agustus 2017.

Acara pameran lukisan yang bertemakan  “Senandung Ibu Pertiwi” yang diselenggarakan oleh Sekretariat Negara, penting untuk disaksikan. Dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Selasa (1/8), pameran tersebut menghadirkan 48 lukisan dari koleksi Istana Kepresidenan. Lukisan-lukisan itu diciptakan antara 1863 dan 1983, terbentang sampai 122 tahun.

Beberapa nama penting di ranah seni rupa Indonesia modern. Di antara 41 pelukis yang karyanya dipajang, ada nama-nama itu termasuk pelukis dari Semarang, yang belajar di Belanda sebelum Indonesia meraih kemerdekaan, Raden Salah; Tiga perintis gaya "Mooi Indie", Abdullah Suriosubroto, Wakidi dan Mas Pirngadi; Pelukis istana Basuki Abdullah dan Dullah; Seorang pelukis yang menjadi gubernur DKI Jakarta, Henk Ngantung; Dan pemimpin kelompok Pitamaha di Bali, Ida Bagus Made Poleng.

Ada juga pelukis dari kalangan masyarakat, seperti Hendra Gunawan dan Trubus Sudarsono, sekaligus pelukis abstrak dari Institut Teknologi Bandung, Ahmad Sadali dan AD Pirous. Lukisan oleh seniman ekspatriat juga menambahkan warna pada perjalanan seni kita, seperti Walter Spies (Jerman), Ries Mulder (Belanda), Rudolf Bonnet (Belanda), Theo Meier (Swiss) dan Lee Man Fong (China).

Mereka adalah nama penting dalam sejarah seni di Indonesia. Selanjutnya, semua karya yang ditampilkan dalam pameran ini adalah dari koleksi istana kenamaan. Melihat lukisannya seperti membuka halaman buku sejarah dan menyaksikan karya terkenal pertama yang hanya dipelajari di kampus seni.


Indonesia dalam empat tema khusus

Seperti apa lukisan pelukis ini? Umumnya lukisan mereka menggambarkan budaya Indonesia, yang terwakili dari berbagai perspektif. Tim kurator, Asikin Hasan, Amir Sidharta, Mikke Susanto dan Sally Texania, membagi lukisan menjadi empat kelompok: adegan, kesehatan, tradisi dan spiritualitas.

Saat memasuki pintu masuk utama ruang pameran, pengunjung langsung disambut oleh lukisan Basoeki Abdullah, Pantai Flores. Lukisan yang diproduksi pada tahun 1942 ini menunjukkan pemandangan yang menyegarkan dari pantai berpasir yang dikelilingi tebing. Sebuah gunung yang diselimuti awan berada di latar belakang.

Beralih ke sudut yang berbeda, lukisan Raden Saleh yang romantis, Harimau Minum (1863), ditampilkan. Seekor harimau sumatera terlihat sedang minum dari sungai yang sejuk di bawah pohon rindang. Langit biru jelas.

Pemandangan "Mooi Indie" atau menarik dari Hindia Belanda juga terlihat di sejumlah lukisan lainnya. Negara ini diberkati dengan kekayaan alam yang indah.

Di kelompok lain, ada lukisan-lukisan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sebuah lukisan karya Bonnet, Bekerja di Lapangan Padi di Bali (1954), menunjukkan seorang petani yang bekerja di sawah bertingkat. Lukisan Ries Mulder adalah penjual ayam, sementara Lee Man Fong dengan lukisan bergaya Cina spontan, "Penjual Sate".

Di ruangan sebelah ruang pameran, beberapa lukisan menunjukkan tiga wanita mengenakan kebaya, beberapa dengan rambut mereka di sanggul. Para wanita itu anggun dan tampil bangga dengan identitas nasional mereka. Seniman lukisan ini adalah orang-orang seperti Trubus, Hendra dan Sudarso.

Tak jauh dari situ, lukisan Basoeki yang terkenal, Nyai Roro Kidul, ditampilkan. Seorang wanita dengan rambut panjang dan longgar yang mengenakan kemban tampak bermunculan dari laut kasar. Melihat makhluk mitologis menarik bagi para penonton pameran.

Pindah ke ruang belakang, pengunjung disuguhi lukisan abstrak oleh Sadali dan Pirous. Tidak mengandung manusia atau pemandangan, kedua lukisan itu terdiri dari serangkaian bidang dan garis berwarna lembut bersamaan dengan kaligrafi Arab. Mereka mengirimkan aura yang dalam dan menenangkan.

Melihat lukisan tersebut, kami diajak melihat Indonesia dari sudut pandang yang kaya. Kita memiliki keindahan alam yang indah, orang-orang yang hidup dalam harmoni, aneka ragam tradisi dan spiritualitas yang mendalam. Semua hal ini adalah aset berharga yang telah ada sejak lama dan berpotensi dikembangkan untuk kemajuan bangsa.

"Lukisan-lukisan ini sebenarnya terlalu manis untuk dipahami dalam situasi saat ini, tapi ini memberi kami kesempatan untuk beristirahat," kata Kuss Indarto, kurator lulusan Institut Seni Yogyakarta, saat mengamati pameran tersebut.

Istirahat yang ia rujuk telah menjadi lebih bermakna karena ia menawarkan terwujudnya keragaman Indonesia. Representasi adegan, aktivitas sehari-hari, tradisi dan spiritualitas dalam karya pelukis tidak semua sama. Mereka bervariasi. Dan semuanya itu aset kita.


Pameran terbuka untuk umum

Di bagian paling belakang dari pameran tersebut, ada sesuatu yang perlu diperhatikan tentang perjalanan koleksi Istana Negara, mulai dari Presiden Soekarno sampai Presiden Joko Widodo. Dalam perkenalan dalam katalog pameran tersebut, Sekretaris Negara Pratikno mengatakan, pameran tersebut merupakan pameran koleksi Istana Negara kedua yang digelar pada era Jokowi. Pada 2016, sebuah pameran serupa berjudul Goresan Juang Kemerdekaan (Scars of the Struggle for Independence) diadakan.

Salah satu kurator, Amir Sidharta, mengatakan bahwa pameran tersebut memberi rasa karya seni di Istana Negara dan apa yang mereka maksudkan kepada seorang kepala negara, mulai dari Soekarno sampai Jokowi, dan siapa pun yang menjadi presiden di masa depan. "Lukisan-lukisan ini adalah jendela bagi orang-orang di istana untuk melihat Indonesia," katanya.

Pameran serupa akan digelar setiap tahun. Keputusan ini patut mendapat apresiasi karena di masa lalu Istana Negara cenderung menyimpan koleksi seninya dari pandangan publik dan hanya mengizinkan kelompok tertentu untuk melihatnya.

Melalui pameran tersebut, anggota masyarakat diberi kesempatan untuk melihat karya seni indah yang mewakili sejarah Indonesia dan perubahan yang telah dialaminya selama ini. Apalagi koleksi istana tidak hanya mencakup lukisan pemandangan atau objek kecantikan, tapi juga lukisan perjuangan berbagai kelompok, semua demi perkembangan Indonesia.

Pameran ini merupakan jendela bagi kita untuk menghirup udara segar di tengah berbagai permasalahan di Tanah Air. Pada saat gesekan politik, membenci ucapan di media sosial, intimidasi di kalangan siswa, korupsi oleh pejabat dan pertarungan jalanan menyebabkan situasi di negara ini menjadi suram, maka diharapkan bahwa lukisan-lukisan indah Indonesia dengan keragaman budaya ini dapat Menghirup udara segar Kami dulu berjuang bersama untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan semangat itu harus dijaga.

Post A Comment: