Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Kapolri Jenderal (Pol.) Tito Karnavian untuk segera mengungkap pelaku penyerangan
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian memberikan keterangan pers soal sketsa wajah pelaku penyiraman air keras ke penyidik KPK Novel Baswedan.

Jakarta, PILKITA - Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Kapolri Jenderal (Pol.) Tito Karnavian untuk segera mengungkap pelaku penyerangan air keras terhadap penyidik ​​Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan.

Polri baru saja menyelesaikan sketsa wajah tersangka pelaku kejahatan tersebut. Namun, masyrakat menilai Polri terlalu lamban untuk membuat sketsa, dan polisi dipandang tidak serius menemukan pelaku dan dalang dibalik serangan terhadap Novel.

Tito mempresentasikan sketsa polisi penyerang yang diduga Novel untuk pertama kalinya setelah pertemuan tertutup dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka di Jakarta, Senin (31/7) siang.

"Presiden telah meminta Kepolisian Nasional untuk menyelidiki secara menyeluruh kasus Novel dengan menangkap pelaku. Segera, " ungkarp juru bicara kepresidenan Johan Budi SP.

Tito datang ke Istana sekitar jam 2:20 siang. Khusus untuk memenuhi panggilan Presiden. Dia menjelaskan bahwa pada hari Senin, polisi telah menanyai 59 orang, memeriksa sekitar 50 kamera pengintai (CCTV) dengan radius maksimum 1 kilometer dari tempat kejadian, dan mengunjungi lebih dari 100 toko kimia yang menjual merkuri atau asam cair.

"Sketsa ini baru berumur dua hari. Ini terjadi setelah kami terus menerus mengkaji ulang kesan para saksi agar mendapatkan hasil yang baik, sketsanya memang mirip dengan pelaku yang dilihat saksi mata, " Ujar Tito.

Tito menerangkan, menyusun sketsa berdasarkan keterangan saksi sangatlah  penting. Saksi tersebut melihat seorang pengendara motor berdiri di dekat Masjid Al Ihsan di Kelapa Gading, Jakarta Utara, lima menit sebelum Novel disiram dengan asam cair.

"Kami juga bekerja sama dengan The Australian Federal Police (AFP), kemudian kami merekonstruksi wajah pelaku dengan menggunakan program komputer sampai kami mendapatkan sketsa pelaku," kata Tito.


Terlibatnya Jenderal dalam kasus Novel

Tito mengungkapkan, mengenai informasi yang diberikan Novel, dia mengklaim seorang jenderal polisi berada di balik serangan tersebut. Tito segera membentuk tim investigasi gabungan Kepolisian dan KPK untuk menyelidiki lebih dalam kasus ini. Tim akan segera berangkat ke Singapura untuk meminta keterangan langsung dari Novel.

Di Singapura, saat dihubungi wartawan, Novel bertanya mengapa sketsa polisi pelaku telah dikembangkan sekarang. Novel mengatakan bahwa sketsanya tidak akan berdampak banyak dalam mengungkap pelaku serangan asam.

"Logikanya, polisi bisa membuat sketsa dari saksi tepat setelah terjadi kejadian. Ini jika mereka serius. Dalam kasus ini, sketsa dibuat dua bulan dan dua minggu sesudahnya. Apa yang telah dilakukan polisi sejauh ini? " ungkapnya.

Novel pesimis bahwa polisi berani mengidentifikasi pelaku, apalagi dalang dibalik serangan tersebut. "Sebenarnya saya melihat upaya untuk bekerja sama dengan KPK sebagai cara melegitimasi petugas tertentu di Kepolisian Nasional untuk menahan kasus ini, termasuk eksekutornya. Semuanya akan ditahan, ditutup-tutupi, "katanya.

Ditambahakan oleh Novel, bisa juga Kapolri berkoordinasi dengan KPK untuk melaporkan dugaan keterlibatan seorang petugas Polri yang diyakini berada di balik serangan terhadapnya.

"Ada kemungkinan anggota polisi telah melapor ke Kapolri bahwa seorang jenderal diyakini telah menerima suap, sehingga mereka ingin berkoordinasi dengan KPK dalam kasus korupsi," kata Novel.

Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan bahwa perhatian Presiden terhadap kasus tersebut merupakan pertanda baik bahwa pelaku serangan akan segera ditangkap.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon dari Fraksi Gerindra juga menilai Polri lambat menginvestigasi kasus tersebut. Fadli mengatakan bahkan memberi kesan bahwa ada niat untuk menutupinya.

"Dalam kasus lain, polisi bisa bergerak cepat, tapi untuk yang satu ini, mereka sepertinya lamban dan ada kesan tidak transparan, ada yang sengaja ditutup-tutupi," kata Fadli.

Wakil Ketua DPR Agus Hermanto dari Fraksi Partai Demokrat juga menganggap penanganan kasus Novel itu lamban. "Kompleksitas masalah ini harus ditangani secara komprehensif sehingga, menurut saya, tim pencari fakta diperlukan. Jika tidak, akan memakan waktu lebih lama. Kapan semua akan terungkap? "Katanya.

Menurut direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid, Presiden harus membentuk tim pencari fakta karena sudah lebih dari 111 hari sejak serangan terhadap Novel, namun tidak ada tanda-tanda bahwa Polisi Nasional dapat mengidentifikasi pelaku.

Usman mengatakan, "Ada kemungkinan kasus Novel tidak dapat dipisahkan dari urusan politik. Dia diserang karena dia menginvestigasi pejabat tinggi pemerintah dan DPR dalam kasus korupsi."

Post A Comment: