Orangutan Tapanuli bernama latin Pongo Tapanulensis spesies great apes ditemukan di hutan Sumatera Indonesia
Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) dewasa ditemukan di hutan Batang Boru Tapanuli, Sumatera Indonesia.

Jakarta, Pilkita - Kabar gembira sekaligus menyedihkan muncul terkait spesies orangutan Tapanuli, bernama latin Pongo Tapanulensis. Kabar baik populasi orangutan di hutan sekitar Tapanuli, Sumatera Utara, baru-baru ini dikonfirmasi sebagai spesies baru oleh para ilmuwan.

Kabar menyedikannya, spesies tersebut sedang menghadapi kehilangan habitat aslinya yang parah karena terancam oleh pembangunan industri, pertambangan dan pertanian. Tidak ketinggalan, pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang dapat berdampak mengurangi habitat mereka yang tersisa hingga 8%.

Dalam hasil riset yang diterbitkan di jurnal Current Biology, tim -yang terdiri dari para peneliti Universitas Zurich, Universitas John Moores Liverpool, dan Sumatran Orangutan Conservation Programme- mengatakan tinggal 800 ekor yang ada sehingga menjadikannya sebagai spesies kera yang kelangsungannya paling terancam di dunia.

Periset dan kelompok konservasi saat ini bekerja dengan Kementerian Lingkungan dan Kehutanan untuk menemukan solusi untuk habitat rangutan yang hilang dan menyelamatkan orangutan Tapanuli dari kepunahan.

Wiratno, direktur jenderal konservasi sumber daya alam dan ekosistem di kementerian tersebut, mengatakan bahwa sebuah tim akan dikirim ke hutan Batang Toru untuk memastikan bahwa tidak ada proyek pembangunan yang dilakukan di habitat orangutan.

"Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai krisis orangutan Tapanuli, saya yakin mereka akan dilestarikan," ungkap Wiratno pada sebuah pertemuan media di Jakarta, Jumat (3/11).


Pongo Tapanuliensis di hutan Batang Boru Tapanuli

Orangutan Tapanuli, atau Pongo Tapanuliensis, ditemukan di dataran tinggi terisolasi di hutan Batang Toru di Tapanuli, di mana terdapat kurang dari 800 orangutan individu yang diperkirakan oleh para periset yang tinggal di ketinggian lebih dari 850 meter di atas permukaan laut. Orang utan biasanya tidak tinggal di daerah dataran tinggi.

"Kami telah mengusulkan agar orangutan Tapanuli dikategorikan sebagai spesies yang terancam punah oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam [IUCN]," kata Puji Rianti, seorang peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Bulan Agustus lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerbitkan sebuah laporan orangutan Sumatra dan Kalimantan.

Laporan itu menyebutkan populasi orangutan menyusut dari survei sebelumnya yang dilakukan tahun 2004. Adapun kerusakan habitat adalah salah satu penyebab utama.

Jumlah orangutan ditaksir kini sebanyak 0,13 hingga 0,47 individu per kilometer persegi. Menurun dari 0,45 hingga 0,76 individu per kilometer persegi.

Pemeriksaan genetik menunjukkan bahwa orangutan Tapanuli terkait erat dengan orangutan Borneo, meskipun mereka tinggal dekat dengan orangutan sumatera.

Orangutan Tapanuli menjadi tambahan spesies baru di kelompok kecil great apes dalam kurun waktu satu abad terakhir.

Spesies ini bergabung bersama apes lainnya yaitu orangutan Sumatra, orangutan Kalimantan, gorila, bonobo, dan simpanse.

Pupulasi Orangutan asli hutan Indonesia mengalami ancaman yang serius dalam beberapa tahun terakhir karena deforestasi yang merajalela.

Post A Comment: