Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Rikwanto memberi keterangan di Mabes Polri.

Jakarta, Pilkita.com - Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyatakan kesiapannya untuk mengantisipasi aksi damai 11 Februari 2017, yang direncanakan akan digelar massa di Masjid Istiqlal, Jakarta, dengan menggelar doa bersama.

“Menurut informasi dari pengelola Masjid Istiqlal hanya akan di igunakan untuk dzikir dan doa bersama,” dikatakan Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Rikwanto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (9/2).

Rikwanto juga mengimbau agar masyarakat tidak perlu khawatir dengan adanya aksi damai "112" nanti. Karena pihak kepolisian telah menyiapkan dan melakukan pengamanan kegiatan tersebut dengan baik, tambah Rikwanto.

“Masyarakat tidak perlu khawatir atas kegiatan tersebut. Silahkan beraktivitas seperti biasa. Polda Metro Jaya bersama Mabes akan melakukan pengamanan dengan baik, agar kegiatan tertib,” terang Rikwanto seperti diinformasikan melalui laman resmi Humas Polri.

Untuk menghindari adanya kemacetan di kawasan tersebut, nantinya Polda Metro Jaya dan Mabes Polri akan mengatur massa yang datang dari berbagai wilayah menuju Masjid Istiqlal.

“Nanti akan diatur pihak Polda Metro. Dari mana saja akan datang, kemudian jalannya lewat mana, parkir dimana. Begitu juga kembalinya. Akan diatur. Agar tidak menimbulkan kemacetan selama kegiatan berlangsung,” tambahnya.


Front Pembela Islam (FPI) akan gelar aksi di Istiqlal

Rizieq Shihab mengatakan, pelaksanaan aksi "112" oleh Front Pembela Islam (FPI) pada Sabtu (11/2) nanti hanya akan digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Rizieq Shihab, Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) memberikan keterangan pada pers.

Pimpinan FPI itu memberi keterangan usai bertemu dengan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto di rumah dinas Menkopolhukam, Jakarta, Kamis (9/2).

"Aksi 11 Februari akan tetap dilaksanakan. Tapi yang ingin ikut aksi telah mengambil inisiatif dengan memindahkan lokasi kegiatan dari Monas menjadi di Masjid Istiqlal," kata Rizieq.

Rizieq menambahkan, pihaknya juga membatalkan aksi pengerahan massa turun ke jalan atau long march, yang rencananya dimulai dari Monas menuju Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

"Kebetulan ada dua paslon yang akan kampanye terakhir pada hari itu, kedua paslon bisa saja mengerahkan massa yang cukup besar dalam aksi tersebut. Kami tidak mau terjebak dalam kampanye mereka, maka itu kami ambil keputusan agar digelar di Istiqlal," tambah Rizieq.

"Kami juga komitmen untuk tidak melanggar undang-undang dalam aksi di Istiqlal," tambahnya pula.

Sementara itu, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI Bachtiar Nasir, di lokasi yang sama bersama Rizieq, mengatakan aksi "112" ini akan dilaksanakan dengan menggelar Shalat Subuh berjamaah serta dilanjutkan dengan acara Tausiah Nasional.

"Tidak boleh ada hal-hal yang bisa mengganggu ketertiban umum. Tidak boleh ada yang menimbulkan provokasi. Kita akan berkerja sama dengan aparat," tandas Bachtiar.

Bachtiar juga menegaskan bahwa massa dari GNPF tidak akan melaksanakan long march.

"Kami perjelas secara resmi, bahwa tidak ada long march. Kalau ada itu bukan GNPF. Kami tidak bertanggung jawab atas itu," tegas Bachtiar.

Sebelumnya, pihak Polda Metro Jaya telah melarang aksi "112" yang akan digelar FPI karena menjelang masa tenang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono menerangkan alasan tidak diizinkannya aksi tersebut digelar karena dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Polisi berwenang membubarkan aksi yang dianggap berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban umum, termasuk menjatuhkan sanksi kepada para pelakunya, terang Argo.

Berdasarkan Pasal 6 UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang menyampaikan pendapat di muka umum yang mengganggu ketertiban tidak diperbolehkan dan Pasal 15 UU Nomor 9 Tahun 1998, maka petugas dapat membubarkan aksi itu.

Post A Comment: