Mr Moh Roem yang sukses dalam perundingan Roem Van Roijen, Bung Karno gemilang lobby tokoh negara berhasil Konferensi Asia Afrika
Reinhard Hutapea
Oleh: Reinhard Hutapea*

Secara singkat pengertian diplomasi adalah seni dan praktik berunding yang mewakili satu negara atau organisasi. Sir Earnest Satow (1970) memperjelasnya dengan penerapan kepandaian dan taktik dalam pelaksanaan hubungan resmi antara pemerintah negara-negara berdaulat. Konkretnya dibutuhkan kapabilitas individu mumpuni apabila seorang diplomat ingin sukses memperjuangkan tujuan nasionalnya.

Seorang diplomat diharapkan akan piawai menyampaikan pesan (message), menangkap keinginan lawan (partner) berunding, serta meng-gol-kan kepentingan nasional yang diembannya. Oleh karena itu, ia harus memiliki integritas, kecakapan negosiasi, komunikasi, kemampuan berdebat, berkelit, dan lain-lain kapasitas individu lainnya.

Dari sejarah sosok-sosok demikian, lebih dari cukup  kita kenal. Agus Salim adalah contoh diplomat yang  sangat sempurna. Sosok yang selalu berpeci, berjenggotan, dan rakus merokok ini sangat terkenal karena kelihaiannya berdebat, berkelit, dan menekan pihak perunding lainnya.

Mr Moh Roem yang sukses dalam perundingan Roem Van Roijen, Bung Karno yang gemilang me-lobby tokoh-tokoh negara lain sehingga berhasil memperjuangkan Konferensi Asia Afrika adalah figur lain yang tak kurang genialnya.

Pada waktu Orde Baru, figur Adam Malik yang populer dengan sebutan si Kancil menempati posisi sentral sebagai diplomat yang paling handal. Perannya sebagai perunding ulung sewaktu konsolidasi Orde Baru keberbagai negara kunci, posisinya sebagai menteri luar negeri dua periode lebih, hingga terpilih menjadi ketua Majelis Umum PBB adalah fakta kepiawaiannya.

Meski tidak sehandal Adam Malik, beberapa nama kemudian mencuat, seperti  Ali Alatas yang kemudian menjadi menteri luar negeri, Agust Marpaung dan Sabam Siagian yang mendapat pujian di Australia, hingga Jusuf Kalla yang gemilang menyelesaikan konflik Ambon, Poso, dan khususnya penyelesaian konflik Aceh melalui perjanjian Helsinki.


Kekuatan nasional

Yang menarik dari sosok-sosok demikian, adalah pada umumnya mereka berlatar belakang jurnalistik. Adam Malik dan Sabam Siagian wartawan, Agust Marpaung ex-kepala pusat penerangan (Humas/PR) TNI, Ali Alatas, walau bukan wartawan adalah diplomat senior yang sangat piawai berkomunikasi. Sedangkan Jusuf Kalla meskipun bukan diplomat karir atau sosok jurnalis, adalah pengusaha dan politisi yang lazimnya juga sangat menguasai cara-cara berkomunikasi dan berunding.

Lain hal di negara-negara Australia, Jepang, Eropa, dan khususnya Amerika Serikat, diplomatnya telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Mereka direkrut dari institusi yang sesuai dengan bidangnya, yakni dari sekolah formal/pendidikan tinggi politik dan ex-prajurit. Doktor-doktor jebolan Ilmu Politik  AS mendominasi diplomatnya diseluruh dunia. Diplomat yang sedikit banyak telah menguasai peran-peran teknokrasi, selain peran abadinya sebagai negosiator atau komunikator. Peran yang memang harus dimiliki seorang diplomat agar kualitas diplomasinya semakin bermutu.

Indonesia kecenderungannya masih jauh dari pola atau metode diplomat demikian. Negeri ini masih dominan menggunakan birokrat, politisi, dan sosok-sosok yang belum hasil gemblengan sekolah/perguruan tinggi formal. Yang penting mereka manut terhadap mekanisme-prosedur diplomasi secara formal. Soal kwalitas silahkan improvisasi atau inovasi sendiri setelah diangkat jadi diplomat. Syukur-syukur berhasil.

Akan tetapi bila kita telaah lebih jauh, inti persoalannya tidak di situ. Bukan (terutama) pada kapabilitas pribadi diplomatnya. Melainkan kekuatan nasional yang dimiliki setiap negara. Jika kekuatan nasionalnya besar, besar kemungkinan sang diplomat handal akan sukses memperjuangkan kepentingan nasionalnya. Jika sebaliknya, yakni sumber daya nasionalnya kecil, kecil kemungkinan diplomatnya meng-gol-kan aspirasi domestiknya.

Pertandingan akan indah apabila kekuatan masing-masing yang bersaing setara, paling tidak , tidak terlalu timpang. Sukar dibayangkan jika MU, Barca, Juventus diadu dengan Persipura, Sriwijaya FC, Arema seperti apa jadinya. Yang pasti bukan permainan yang seimbang.

Analog dengan negara-bangsa (nation state). Negara-bangsa yang kuat Iptek, persenjataan, SDM, dan atau khususnya ekonominya, ketika melakukan perundingan/negosiasi dengan negara yang lemah, meski tidak punya diplomat yang super handal, akan tetap lebih unggul. Sebaliknya dengan negara yang kekuatan nasionalnya kecil, biar bagaimanapun kehebatan diplomatnya akan sukar meng-gol-kan kepentingan nasionalnya.


Diplomasi realis-nasionalistis

Dalam kerangka inilah kita lihat diplomasi yang dilakukan Trump setelah ia terpilih jadi presiden AS. Trump sebagaimana kebijakannya, telah merubah politik luar negerinya dengan signifikan. Dari yang sebelumnya sebagai pemimpin keamanan,  HAM, Demokrasi mondial, dan mascot perdagangan bebas menjadi sebaliknya. Ia lebih memilih realis daripada globalis, meski membuat negara-negara lain, khususnya negara-negara yang di bawah ketiaknya menggelinjang-gelinjang, bak cacing kepanasan.

Sebagaimana faktanya, belum tiga bulan berkuasa, Trump telah melakukan tindakan, yang bagi mayoritas negara dianggap ugal-ugalan. Merkel yang datang menemuinya di gedung putih tidak disalaminya. Korea Utara yang doyan uji nuklir konon akan dilibasnya jika RRC tidak bersedia menekannya.

Tidak cukup di situ, ia telah keluar dari NAFTA, membangun tembok di perbatasan Meksiko, menolak imigran dari 9 negara Islam, mengecam perdagangan bebas yang hanya menguntungkan pengusaha, menuding NATO sudah usang dan persekutuan internasional lainnya.

Trump tidak peduli dengan segala kecaman, cemoohan, bahkan tertawaan. Ia maju terus dengan kebijakannya. Bak anjing menggonggong kafilah jalan terus, Trump telah mengutus diplomat-diplomatnya mengimplementasikan kebijakannya ke berbagai negara. Kebijakan yang utama dan terutama demi American first.

Bagaimana dengan Indonesia yang sebaliknya lebih cenderung ke regionalism dan globalism? Begitu  bersemangat dengan AFTA, APEC, G-20, TPP, dan sekarang menjadi ketua IORA. Tidakkah memilih politik luar negeri/diplomasi yang realistik-nasionalistis sebagaimana dilakukan Trump?

*Staf pengajar FISIP UDA Medan. Mantan Dekan FISIP Untag Jakarta.

Post A Comment: