Winahyon kang sinebat Sabda Palon – Naya Genggong mboten sanes atur pangucap kang wonten dedhasaripun nuli katindakna ing caking pembudi-karti
Pramuji Singgih Riyanto
Oleh: Pramuji Singgih Riyanto*

Beberapa hari lagi akan diselenggarakan “Pilkada Rasa Pilpres” yang paling menggemparkan dunia karena sangat heboh. Dari ayat sampai mayat digunakan sebagai isu dan piranti untuk menggiring dan membentuk opini publik agar memilih salah satu pasangan calon (paslon). Penulis mencoba untuk “urun rembug” dalam diskusi “Siapa Jawara Betawi” jika dilihat dari perspektif Spiritual Mistik Nusantara, Sabda Palon – Naya Genggong.  

Dari kamus bahasa Sanskerta, penulis mencoba mendekati makna Sabda Palon – Naya Genggong secara etimologis:

Sabda: ucapan
Palon: dasar atau landasan
Naya: Tingkah laku, tindakan, krida, politik
Genggong: Mengeluarkan suara, atau menunjukkan semangat (contoh penggunaan kata: Janggrik Genggong, artinya jangkrik yang “mengerik” dengan penuh semangat).

Sang pemimpin atau calon pemimpin yang “diemong” (diasuh dan didampingi) oleh Sabda Palon – Naya Genggong tentu selalu mengucapkan kata atau janji yang memiliki dasar (logika dan nurani) dan mewujudkan perkataan itu dalam tingkah laku dan tindakan nyata untuk kesejahteraan masyarakat umum, bukan untuk diri pribadi, golongan, agama, suku atau ras tertentu. Dengan demikian, pemimpin atau calon pemimpin itu akan memenangkan hati rakyat, karena rakyat tentu akan terpukau dan kagum terhadap tipe pemimpin semacam ini.

Patung Prabhu Brawijaya V (yang berjuluk Sunan Lawu)

Pengertian di atas “jumbuh” dengan uraian dari Brawijaya Sang Nata Prabbhu Kedaton Majapahit Kalima (V) yang juga berjuluk Sunan Lawu berikut ini:

“Winahyon kang sinebat Sabda Palon – Naya Genggong mboten sanes atur pangucap kang wonten dedhasaripun nuli katindakna ing caking pembudi-karti, lan sayektine mujudaken jejodhoan saking manah, tumusing lathi dados kasunyatan damel hanyengkuyung hamemayu hayuning buwana.”

[Wahyu yang disebut Sabda Palon – Naya Genggong tiada lain adalah ucapan/janji yang punya dasar (logika dan nurani) yang selanjutnya dilaksanakan dalam kerja dan perbuatan nyata, yang sesungguhnya merupakan perjodohan (kesesuaian) dari hati, terucap di bibir, dan diwujudkan menjadi kenyataan untuk mendukung dan mensejahteraan dunia.]

Jadi, intinya adalah Kesesuaian/Konsistensi antara Pikiran, Perkataan dan Perbuatan.

Dengan pengertian ini, kita bisa memprediksi siapa-siapa saja yang bakal menjadi pemenang dalam Pilkada yang sedang berlangsung di NKRI, termasuk “Pilkada Rasa Pilpres” Anies-Sandi vs. Ahok-Jarot. Silakan memprediksi sendiri-sendiri!  Dalam era transparan yang penuh keterbukaan ini, rakyat tidak mudah ditipu dengan janji-janji muluk seperti yang diucapkan oleh para “sponsor” dalam “multilevel” guna meyakinkan dan mendapatkan down-line (pengikut), misal dalam tiga bulan gabung ke kubu saya akan mendapat “kapal pesiar” dan “rumah gratis,” bahkan sampai iming-iming masuk “syurga”.

Salam Rahayu Sagung Dumadi!


*Dosen di STMIK AMIKOM, Yogyakarta. Konsultan penelitian di Almico Riset.

Post A Comment: