Kelangkaan garam rumah tangga dan garam industri yang terjadi di seluruh Indonesia belum terselesaikan. Karena banyak pelaku industri menutup pabrik mereka sebagai akibat dari kekurangan pasokan garam tersebut
Petani garam di Madura.

Palembang, Pilkita.com - Kelangkaan garam rumah tangga dan garam industri yang terjadi di seluruh Indonesia belum terselesaikan. Karena banyak pelaku industri menutup pabrik mereka sebagai akibat dari kekurangan pasokan garam tersebut, pemerintah akhirnya memutuskan untuk mengimpor garam mentah.

Kepala Satuan Tugas Polisi Nasional Inspektur Jenderal Setyo Wasisto membenarkan keputusannya di Palembang, Sumatra Selatan, Jumat (28/7)

Setyo mengatakan, kekurangan dan mahalnya harga garam tidak hanya terjadi di Palembang, tapi juga di hampir semua wilayah, karena produksi garam yang turun di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Selain itu, penangkapan direktur perusahaan garam pemerintah PT Garam, karena menjual garam industri sebagai garam yang dapat dimakan, telah berdampak negatif pada psikologi pasar.

Karena pajak impor tidak dipungut pada garam industri, menjualnya sebagai garam yang dapat dimakan dengan harga lebih tinggi akan menuai keuntungan bagi Garam.

Harga garam asin saat ini meningkat dari Rp 700 per kilogram menjadi Rp 3.000 per kg.

"Kami dan instansi terkait akan terus memantau fluktuasi harga garam," kata Setyo.


Mengimpor dari Australia dan India

Direktur produksi PT Garam Budi Sasongko mengatakan bahwa dalam menanggapi kekurangan garam, pemerintah akan mengimpor garam asal Australia.

Garam yang dapat diimpor harus memenuhi kriteria seperti memiliki kadar natrium klorat (NaCl) minimal 97 persen. Rencana impor akan direalisasikan selambat-lambatnya 10 Agustus 2017.

"Untuk jangka pendek pengimporan garam, Australia adalah negara yang paling siap," katanya.

Sebelumnya pada bulan April, PT Garam mengimpor 75.000 ton garam yang dapat dimakan. Dari jumlah ini, 55.000 ton diekspor dari Australia dan 20.000 ton dari India.

Pelabuhan masuk garam impor adalah tiga pelabuhan Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya), Pelabuhan Ciwandan (Banten) dan Pelabuhan Belawan (Medan).

"Menurut rencana, garam yang dapat dimakan akan sampai di pelabuhan dan akan dibongkar langsung di pabrik (produksi garam) atau pada industri kecil hingga menengah (UKM) yang memiliki alokasi impor. Kalau dibongkar di PT Garam, distribusinya butuh waktu, "kata Budi.

Secara terpisah, direktur perdagangan luar negeri Oke Nurwan mengatakan PT Garam akan bertanggung jawab untuk mengimpor garam yang dapat dimakan. Garam harus masuk Indonesia selambat-lambatnya 10 Agustus 2017, dan diprioritaskan untuk didistribusikan ke UKM. Pemerintah akan menetapkan harga jual untuk UKM dan konsumen setelah menerima rincian harga dari negara pengekspor garam.

"Kami memutuskan untuk mengimpor garam yang dapat dimakan karena produksi garam nasional turun drastis. Ini adalah situasi yang luar biasa sehingga tidak melanggar peraturan impor garam, yang menetapkan bahwa impor garam tidak diperbolehkan dalam satu sampai dua bulan sebelum panen garam, "katanya.

Garam yang dapat diimpor akan menjadi tahap pertama upaya mengatasi kekurangan tersebut. Jika perlu, PT Garam bisa mengajukan impor lagi. Impor garam bertujuan untuk memenuhi konsumsi nasional sebesar 226.000 ton.

Dirjen manajemen tata ruang maritim Brahmantyo Satyamurti Poerwadi Kementerian Kelautan dan Perikanan mengatakan produksi garam nasional turun drastis tahun ini. Total volume garam yang dihasilkan oleh petani garam dan PT Garam pada periode Mei-Juni hanya 6.200 ton, ketika produksi rata-rata 166.000 ton per bulan dalam kondisi normal. Penurunan produksi yang tajam disebabkan oleh anomali cuaca dari curah hujan tinggi yang tidak alami di daerah penghasil garam.


Produksi meningkat dengan penerapan teknologi 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian DKI Djoestamadji mengatakan, kota tersebut sudah kehabisan persediaan garam seminggu yang lalu. Stok 1.429 ton adalah volume produksi tahun lalu, yang hanya 1,5 persen dari konsumsi lokal 100.000 ton. Untuk mendapatkan persediaan dan stok baru untuk tahun depan, Djoestamadji mengatakan, produksi garam harus ditingkatkan meski kondisi cuaca tidak menentu. Dia menyarankan agar penerapan teknologi produksi baru bisa menjadi solusi yang baik.

Produksi garam Surabaya terus mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir, dan turun dari 117.600 ton pada tahun 2014 menjadi 86.227 ton pada tahun 2015, kemudian menjadi 1.429 ton pada tahun 2016.

Di Cirebon, Jawa Barat, cuaca yang tidak dapat diprediksi dalam beberapa hari terakhir diperkirakan akan mengganggu produksi garam lokal. Cirebon tetap mendung sampai Jumat, dan kolam penguapan di sebuah peternakan garam di Kabupaten Pengenan dipenuhi air. Sementara cuaca mendung dan hujan yang turun pada hari sebelumnya berarti petani tidak bisa memanen garam.

"Jika cuaca terus seperti ini, kami tidak dapat menjamin bahwa produksi garam akan terus berlanjut," kata Mohammad Taufik, ketua cabang Asosiasi Petani Garam Indonesia Jawa Barat. Petani garam menggunakan metode tradisional untuk memproduksi garam, yang mengandalkan penguapan alami oleh sinar matahari.

Menurut Badan Kelautan dan Perikanan Cirebon, volume garam yang dihasilkan oleh total 3.010 hektar tambak garam mencapai 795 ton per Juli. "Kekeringan basah" yang dialami pada tahun 2016 juga mengganggu produksi lokal garam yang dapat dimakan, yang menghasilkan total hanya 1.640 ton.

Post A Comment: