Pendiri konglomerat bisnis Lippo Group, Mochtar Riady, mengatakan bahwa Indonesia lebih dari mampu membangun bank dengan standar internasional
Mochtar Riady pendiri konglomerat bisnis Lippo Group.

Jakarta, Pilkita.com - Pendiri konglomerat bisnis Lippo Group, Mochtar Riady, mengatakan bahwa Indonesia lebih dari mampu membangun bank dengan standar internasional.

Mochtar menyebutkan secara khusus Bank Central Asia, salah satu kreasinya yang sukses dan sekarang merupakan salah satu bank modern terdepan di Indonesia.

Mochtar, yang berusia 89 tahun merupakan salah satu bankir paling terkenal di Indonesia, mengatakan bahwa semboyannya "mengejar seekor kuda dengan mengendarainya" telah berjalan dengan baik untuknya pada masa-masa awal industri perbankan modern di Indonesia.

Pada masa itu, ia mendirikan banyak bank swasta, termasuk Bank Central Asia - yang lebih dikenal dengan akronimnya BCA - dan Bank Panin bersama rekan bisnisnya Liem Sioe Liong, alias Sudono Salim, pendiri pembuat mi instan Indofood.

Sebelum mendirikan BCA dan menjabat sebagai wakil presiden direktur selama 15 tahun sejak 1975, Mochtar memulai karirnya di industri perbankan saat bergabung dengan Bank Kemakmuran yang sakit pada tahun 1959, membawa lima mitra untuk memperbaiki neraca keuangannya.

Dia kemudian bergabung dengan Bank Buana pada tahun 1964 dan bekerja di sana selama tujuh tahun sebelum mendirikan Bank Panin - yang merupakan salah satu dari 10 kreditur kreditur Indonesia dalam hal aset - dengan menggabungkan Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya dan Bank Industri Dagang Indonesia.

Begitu Bank Panin berada dalam posisi hitam, Mochtar melanjutkan ke proyek lain: menciptakan sebuah rumah kliring yang mungkin cocok dengan bank sentral Inggris atau Indonesia.

"Poundsterling dulu adalah mata uang cadangan dunia selama perang dunia kedua, yang secara alami mengubah Bank of England menjadi rumah kliring untuk perdagangan dunia Saya memiliki ambisi untuk menciptakan sebuah rumah kliring untuk perdagangan di Indonesia, di luar Bank Indonesia," Mochtar kepada bankir di BCA Learning Institute di Sentul City, Jawa Barat, Selasa (10/10).

Dengan Sudono Salim, Mochtar mendirikan BCA pada tahun 1975, sebuah bank yang sekarang menguasai pasar nilai terbesar di negara ini. Saat dimulai, BCA melayani hanya satu industri, namun sekarang menangani 86 industri hilir dan hulu.

"Pelanggan berduyun-duyun ke kami [BCA] karena kami menawarkan layanan terobosan: ketika bank lain menawarkan layanan pengiriman uang 40 hari, kami memulai dengan layanan hari yang sama," kata Mochtar.

Mochtar, yang lahir di Malang, Jawa Timur, mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan bankir berprestasi tinggi, bankir yang baik yang akan kembali ke negara tersebut dengan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.

"Jenis lainnya adalah bankir sukses yang hanya mencari keuntungan tapi secara moral rusak dan tidak memiliki pendekatan etis dalam melakukan pekerjaannya," kata Mochtar.

Post A Comment: